Anwar Aras: Gen Z Harus Kuasai Media Digital untuk Menebar Dakwah
Gen Z memiliki peluang besar menjadi pelopor dakwah di ruang digital, demikian ditegaskan Anwar Aras saat menjadi pemateri dalam kegiatan Sekolah Dai Azura (SADAR) yang digelar di Masjid Azura, Kemang, Kabupaten Bogor, Jumat (10/7/2026). Anwar, yang juga menjabat Pemimpin Redaksi Ummat TV Networking dan pengurus Organisasi Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) Pusat, membawakan materi berjudul “Peran Media dalam Dakwah ke Gen Z”.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 15 peserta dari berbagai latar belakang—termasuk mahasiswa, santri Sekolah Dai Azura, serta pelajar SMK Cibitung, Karawang, Banten—Anwar menekankan pentingnya peran aktif anak muda dalam menghadirkan narasi kebaikan di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
Peran media sosial dalam dakwah bagi Gen Z
Anwar menjelaskan dakwah di era digital tidak lagi terbatas pada mimbar masjid atau majelis taklim. Menurutnya, kehadiran media sosial membuka ruang yang sangat luas bagi generasi muda untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. “Anak-anak muda hari ini adalah generasi yang sangat dekat dengan gadget. Karena itu, perangkat yang ada di tangan mereka harus menjadi wasilah untuk menyebarkan kebenaran, bukan sekadar sarana hiburan,” ujar Anwar.
Ia menyoroti bahwa budaya konsumsi konten yang tinggi di kalangan Gen Z seharusnya diimbangi kemampuan produksi konten positif. Dengan pemahaman dan kreativitas, anak muda dapat memanfaatkan platform digital untuk menebar nilai-nilai keagamaan yang moderat dan mencerahkan.
Menghadirkan konten positif dengan kemampuan sederhana
Dalam pemaparan materinya, Anwar mendorong para peserta untuk mulai berkarya sesuai kemampuan masing-masing. Ia menegaskan bahwa dakwah digital tidak selalu harus dilakukan dengan produksi konten yang rumit atau mewah. Langkah-langkah sederhana—seperti membagikan pengingat singkat, membuat video pendek bertema kebaikan, atau menulis pesan yang mengedukasi—sudah merupakan kontribusi bermakna untuk menyeimbangkan arus informasi.
“Minimal buatlah konten-konten positif sesuai kemampuan yang dimiliki. Kalau ruang digital dipenuhi pesan-pesan kebaikan, maka kita ikut mengambil bagian dalam menyebarkan dakwah,” kata Anwar, memberi tekanan pada keberlanjutan dan konsistensi dalam berkarya.
Pentingnya literasi digital dan kemampuan menyaring informasi
Anwar juga mengingatkan bahwa ruang digital saat ini dipenuhi beragam informasi, termasuk konten negatif, hoaks, hingga paham-paham menyimpang. Kondisi ini membutuhkan kehadiran lebih banyak konten yang mampu menjadi penyeimbang. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital bagi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh konten yang menyesatkan.
Peserta diharapkan memiliki kemampuan menyaring informasi sehingga ada filter dalam diri sebelum menerima atau menyebarkan berita. “Setidaknya setelah mengikuti materi ini mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika menemukan konten negatif,” ujar Anwar, menegaskan bahwa kesadaran kritis merupakan bagian penting dari dakwah di dunia maya.
Program pembinaan Sekolah Dai Azura
Sementara itu, Penanggung Jawab Daurah SADAR, Tirdmidzi, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut merupakan pembekalan awal bagi peserta angkatan kedua sebelum memasuki proses pendidikan secara reguler. Menurutnya, pembekalan ini menjadi fondasi untuk memulai rangkaian pendidikan yang lebih intensif.
Tirdmidzi menyampaikan bahwa para peserta akan menjalani pembinaan selama dua tahun dengan penekanan pada penguatan ruhiyah, pendalaman ilmu keislaman, serta pengembangan potensi masing-masing sebagai calon dai. “Kami berharap pembekalan ini menjadi fondasi awal bagi para peserta. Setelah menyelesaikan pendidikan nanti, mereka diharapkan kembali ke tengah keluarga dan masyarakat sebagai dai yang siap berdakwah serta memberikan manfaat sesuai potensi yang dimiliki,” ujarnya.
Melalui pembinaan tersebut, Sekolah Dai Azura berharap dapat melahirkan kader-kader dai yang tidak hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga mampu memanfaatkan media digital secara bijak sebagai instrumen dakwah yang efektif di tengah perkembangan zaman. Pendekatan yang menyeimbangkan antara ruhiyah, ilmu, dan keterampilan media dianggap krusial untuk menjawab tantangan dakwah kontemporer.
Acara yang bersifat pembekalan awal ini menjadi langkah awal bagi para peserta untuk memahami dinamika dakwah digital sekaligus mempersiapkan mereka menjalani pendidikan lanjutan. Dengan adanya penekanan pada kemampuan praktis serta literasi digital, diharapkan peserta dapat menerjemahkan pengetahuan agama ke dalam bentuk kegiatan yang relevan dan berdampak di ruang maya maupun nyata.



