Orang Semakin Tidak Percaya Berita, Tetapi Masih Percaya Media Ternama

0 0
Read Time:3 Minute, 49 Second

Angka terbaru menunjukkan perubahan pola konsumsi berita: semakin banyak orang mengandalkan media sosial dan jaringan video seperti YouTube sebagai sumber utama. Fenomena ini disertai kecenderungan luas bahwa publik semakin tidak percaya berita secara umum—meskipun mereka masih menaruh kepercayaan pada nama-nama media yang sudah dikenal.

tidak percaya berita - ilustrasi berita Orang Semakin Tidak Percaya Berita, Tetapi Masih Percaya Media Ternama

Temuan itu berasal dari survei besar yang memetakan perilaku dan sikap pembaca terhadap berita, termasuk penggunaan platform sosial, situs penerbit, televisi, dan juga portal AI. Perubahan ini memberi dampak kompleks terhadap bagaimana merek berita dipakai sebagai titik rujukan dalam proses verifikasi informasi.

Peralihan ke media sosial dan jaringan video

Survei menunjukkan 54% responden kini mendapatkan berita dari media sosial dan jaringan video, menyalip kunjungan ke situs penerbit (51%) dan televisi (52%). Popularitas jaringan video mendorong format pendek dan klip menjadi cara utama menjangkau audiens. Dalam banyak kasus, konsumsi di platform ini bersifat permukaan: konten berita berbaur dengan unggahan lain seperti tips kebugaran atau iklan, sehingga perhatian pembaca seringkali terpecah.

Kelompok yang hanya menemukan berita secara kebetulan saat berselancar di sosial juga meningkat; kini sekitar 12% orang melaporkan mereka mendapatkan berita hanya karena bertemu di linimasa saat mencari hal lain, angka yang dua kali lipat dibanding 2020. Perubahan ini menegaskan bagaimana pengalaman berita semakin tersisipkan dalam rutinitas digital sehari-hari.

Mengapa orang tidak percaya berita tetapi masih percaya media ternama

Meskipun tingkat kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan jatuh ke rekor terendah—hanya 37% orang mengatakan mereka mempercayai sebagian besar berita sebagian besar waktu—kepercayaan terhadap merek media terbesar tetap relatif stabil. Penurunan kepercayaan tercatat di banyak pasar, namun beberapa merek yang paling banyak digunakan berhasil mempertahankan kepercayaan audiens mereka.

Itu menunjukkan paradoks: publik mungkin meragukan “berita” sebagai kategori luas, tetapi ketika harus memverifikasi atau mendalami suatu informasi, mereka cenderung kembali ke nama-nama media yang dianggap memiliki proses verifikasi lebih ketat. Pada momen-momen keraguan, merek masih berfungsi sebagai jangkar kredibilitas.

Perilaku pengguna terhadap AI, mesin pencari, dan sosial

Peran portal AI dalam konsumsi berita juga meningkat, meskipun porsinya masih relatif kecil. Saat ini sekitar 10% orang menggunakan AI untuk mendapatkan berita, naik dari 7% tahun sebelumnya, dan hanya 1% yang menyebut AI sebagai sumber utama mereka. Pengguna AI menunjukkan perilaku berbeda saat melakukan klik keluar dari jawaban yang disintesis mesin: 44% melakukannya untuk memverifikasi kebenaran, dibandingkan 36% pada mesin pencari dan 33% pada sosial.

Saat memilih untuk mencari sumber lebih lanjut, 43% pengguna AI mengklik untuk menelusuri sumber asli, di atas 35% pada mesin pencari dan 34% pada sosial. Sebaliknya, hanya 51% pengguna AI yang mengklik semata-mata untuk mendapatkan rincian lebih lanjut, lebih rendah daripada pengguna mesin pencari (59%) dan sosial (60%). Ini menandakan bahwa pengguna AI seringkali lebih mencari validasi ketimbang sekedar informasi tambahan.

Peran pembuat konten dan implikasi bagi penerbit

Kebangkitan pembuat konten juga memengaruhi lanskap berita: sekitar 27% orang kini mendapat berita dari pembuat konten yang khusus membahas berita, sementara 46% mendapat informasi dari pembuat konten jenis apa pun. Audiens mengatakan pembuat konten lebih menghibur dan mudah dipahami, namun mereka dinilai lebih rendah pada aspek kepercayaan dan ketidakberpihakan. Hanya 3% orang yang sepenuhnya bergantung pada pembuat konten saja.

Perilaku ini menunjukkan bahwa pembuat konten justru sering melengkapi, bukan menggantikan, peran media tradisional dalam hal kepercayaan. Pembuat konten menarik perhatian, tetapi ketika pembaca ingin memastikan kebenaran, mereka cenderung kembali ke merek yang mapan.

Strategi penerbit: dari bertahan ke menyerang

Banyak penerbit merespons perubahan ini dengan taktik defensif, seperti memblokir crawler yang tidak diinginkan. Meski demikian, strategi semata-mata defensif rentan membuat penerbit kehilangan peluang. Pendekatan ofensif yang direkomendasikan adalah memanfaatkan kehadiran di platform sosial untuk mengarahkan pembaca kasual menuju hubungan yang lebih dalam dengan merek, menyediakan jalur yang layak bagi aktor baik dan mitra untuk mengakses konten yang dapat dibaca mesin, dan menggunakan potongan video sebagai pintu masuk ke konten yang lebih panjang dan bermutu.

Kepercayaan masih memiliki nilai ekonomi dan strategis: meskipun verifikasi melalui merek belum otomatis menghasilkan pendapatan, menjadi nama rujukan ketika pembaca meragukan jawaban mesin membantu mengonsentrasikan kepercayaan itu. Kepercayaan itu dapat berkonversi ke langganan, pembagian, dan dukungan pembaca yang merasa karya jurnalistik tersebut penting.

Pada akhirnya, meski ekosistem berita semakin terfragmentasi oleh sosial, video pendek, dan AI, perilaku pembaca menunjukkan satu hal konsisten: ketika berita terpecah-pecah, orang semakin mengandalkan nama yang mereka kenal untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Potongan berita mungkin semakin pendek, tetapi kualitas “juru masak”—yaitu merek yang memproduksi berita—tetap menentukan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %