Kepercayaan media menurun, tetapi merek berita tetap jadi rujukan pembaca
Kepercayaan media mengalami penurunan yang signifikan, tetapi nama-nama besar di ruang berita masih menjadi rujukan utama bagi banyak pembaca. Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun kepercayaan media menurun, perilaku pembaca memperlihatkan bahwa mereka tetap mengandalkan merek yang dikenal ketika perlu memverifikasi informasi.

Pergeseran sumber berita juga terlihat jelas: untuk pertama kalinya, orang kini lebih sering mendapatkan berita dari media sosial dan jaringan video seperti platform berbagi video dibandingkan dari situs penerbit atau televisi. Sementara itu, penggunaan portal kecerdasan buatan untuk berita tumbuh cepat meski masih menjadi bagian kecil dari keseluruhan konsumsi.
Kepercayaan media turun tetapi merek bertahan
Angka-angka menunjukkan tren ganda: 54% orang kini mendapatkan berita dari media sosial dan jaringan video, mengungguli situs penerbit (51%) dan televisi (52%). Di sisi lain, tingkat kepercayaan terhadap sebagian besar berita dalam jangka panjang kini berada pada titik terendah yang tercatat—hanya 37% orang merasa mempercayai sebagian besar berita sebagian besar waktu. Di beberapa negara, angka itu bahkan lebih rendah, misalnya di Amerika Serikat yang turun ke 25%.
Penurunan kepercayaan ini tampak konsisten dengan pengukuran lain yang juga menunjukkan nilai historis terendah. Namun, ketika dianalisis lebih rinci, merek-merek berita yang paling banyak digunakan tidak mengalami penurunan kepercayaan sekritikal angka agregat. Artinya, meskipun publik menaruh kurang percaya pada ‘berita’ secara umum, kepercayaan terhadap sumber tertentu tetap berperan penting.
Peran media sosial, video, dan kecerdasan buatan
Peralihan penggunaan ke media sosial dan jaringan video menciptakan perilaku konsumsi yang lebih dangkal: banyak orang menemukan berita secara kebetulan saat men-scroll konten lain. Kelompok yang hanya mendapatkan berita lewat kebetulan di platform sosial kini mencapai sekitar 12%—dua kali lipat dibanding 2020. Pada saat yang sama, penggunaan AI sebagai saluran berita naik pesat menjadi 10%, dari 7% setahun sebelumnya.
Meskipun penggunaan AI meningkat, proporsi orang yang menyebutnya sebagai sumber utama masih sangat kecil—hanya sekitar 1%. Namun pertumbuhan ini terutama terjadi di kalangan pembaca yang paling aktif dan berminat tinggi pada berita, di mana penggunaan AI sudah mencapai 18%.
Perilaku pembaca: verifikasi dan klik ke sumber
Data penggunaan menunjukkan perbedaan penting dalam cara orang bersikap terhadap jawaban yang diberikan oleh AI, mesin pencari, dan unggahan sosial. Di antara pengguna yang mengklik keluar dari jawaban AI, 44% melakukannya untuk memverifikasi kebenaran informasi, dibandingkan 36% pada mesin pencari dan 33% pada sosial. Sementara 43% mengklik untuk mencari tahu lebih banyak tentang sumber, melampaui angka pada mesin pencari (35%) dan sosial (34%).
Angka-angka ini mengindikasikan bahwa ketika pembaca merasa perlu memastikan ketepatan informasi, mereka masih mengandalkan nama penerbit atau merek yang dipercaya. Dalam momen pengecekan itu, reputasi dan proses verifikasi yang diasosiasikan dengan sebuah merek menjadi sangat bernilai—bahkan ketika input awal datang dari antarmuka AI yang tampak mengaburkan asal-usul konten.
Strategi penerbit: bertahan maupun menyerang
Reaksi beberapa penerbit terhadap perubahan ini beragam. Ada taktik defensif seperti memblokir perayap atau pembatasan akses mesin otomatis, dan ada juga upaya ofensif untuk menjadi nama default yang dicari pembaca saat meragukan informasi. Rekomendasi yang muncul dari temuan ini menekankan pentingnya memadukan kehadiran di platform sosial sebagai pintu masuk dengan upaya membangun hubungan merek yang lebih dalam, misalnya melalui konten panjang dan format video yang mengarahkan pembaca ke penjelasan komprehensif.
Pembuat konten independen juga memainkan peran semakin besar: sekitar 27% orang mendapatkan berita dari kreator yang secara eksplisit fokus pada berita, dan 46% dari kreator jenis apa pun. Meskipun audiens menilai kreator lebih menghibur dan mudah dicerna, mereka cenderung memberi nilai lebih rendah pada hal kepercayaan dan netralitas dibandingkan outlet tradisional. Hanya 3% yang bergantung pada kreator saja, menunjukkan bahwa media tradisional masih memegang peran penting dalam hubungan kepercayaan.
Intinya, ekosistem media terus terfragmentasi oleh sosial, video pendek, dan AI, namun fragmentasi ini malah membuat orang semakin bergantung pada merek yang dianggap dapat memilah kebenaran. Merek yang ingin bertahan harus bekerja dua arah: menjaga kualitas verifikasi dan membuat jalur yang memudahkan pembaca—baik yang datang lewat sosial, mesin pencari, maupun AI—untuk menemukan dan mengapresiasi pekerjaan jurnalistik yang lebih mendalam.



